Beranda » Review Buku Ubur – Ubur Lembur Milik Raditya Dika

Review Buku Ubur – Ubur Lembur Milik Raditya Dika

Seperti buku-buku Raditya Dika yang sebelumnya, Ubur – Ubur Lembur juga adalah kumpulan cerita pendek yang berisi kisah pengalaman hidup penulisnya.

Mungkin Sebagian dari kalian sudah ada yang pernah membaca buku ini secara langsung. Namun di sisi lain, mungkin masih ada yang belum membaca buku ini sama sekali.

Nah, untuk kalian yang berlum pernah membacanya, di bawah ini kami akan berikan sedikit review mengenai buku Raditya Dika yang berjudul Ubur – Ubur Lembur.

Mengawali buku ini, Raditya Dika menulis bahwa salah satu hal yang memotivasinya untuk menulis adalah karena ia merasa apa yang ditulisnya merupakan sesuatu yang penting yang harus dibaca oleh orang banyak.

Melalui 14 cerita pendek yang ada dalam buku ini, Raditya Dika membagikan berbagai macam kegelisahan yang pernah dilaluinya dan apa yang ia dapatkan melalui pengalaman-pengalaman tersebut. Dalam review ubur – ubur lembur ini, kami akan membagikan beberapa cerita yang paling berkesan.

Cerita pertama yang di rasa sangat relatable adalah kisah yang diberi judul Curhatan Soal Instagram Zaman Now.

Raditya Dika menyatakan bahwa Instagram sudah bukan lagi hanya sekadar media sosial untuk sharing, melainkan untuk pamer.

Memamerkan kegiatan mereka saat sedang makan di tempat yang mahal, memamerkan destinasi liburan, dan lain sebagainya.

Media sosial tersebut juga menjadi sarana untuk mengomentari kehidupan orang lain. Terlepas dari itu semua, Raditya Dika tetap menggunakan Instagram.

Saya rasa semuanya bergantung kepada pengguna media sosial itu sendiri. Instagram maupun media sosial yang lain bisa digunakan untuk memberikan pengaruh yang negative, tetapi sebenarnya jika dipikir-pikir, hal yang sama dapat digunakan untuk memberikan dampak yang sebaliknya.

Percakapan Dengan Seorang Anak yang Ingin Jadi Artis juga adalah salah satu cerita yang menarik. Melalui kisah ini, Raditya Dika merenungkan tentang obsesi orang Indonesia terhadap artis.

Pengalaman yang ia ceritakan adalah pertemuannya dengan seorang anak SMP yang bertanya padanya bagaimana caranya menjadi seorang artis.

Anak tersebut punya bayangan bahwa menjadi seorang artis sama dengan memiliki kehidupan yang ‘enak’. Saat itu, Raditya Dika tidak sempat membagikan hal – hal negatif yang datang bersamaan dengan popularitas.

Media lebih banyak menyorot kehidupan artis yang nyaman dan terkesan menyenangkan tanpa mengungkap hal-hal yang tersembunyi di balik itu semua.

Raditya Dika pun juga menceritakan perjalanannya menuju popularitas yang ia lalui sedikit demi sedikit sehingga ia tidak pernah merasa dirinya adalah seorang artis.

Dan meskipun dengan segala popularitas yang dimilikinya saat ini, ia memilih untuk tidak banyak berubah dan tetap menjadi dirinya sendiri apa adanya.

Isu yang dibahas Raditya Dika dalam ceritanya dengan judul Korban Tak Sampai juga membuat kita berpikir.

Salah satu pembahasannya adalah tentang orang-orang yang suka jadi hakim sendiri, terutama terhadap apa yang mereka melihat di media slot online terbaik. Saat ini ada juga situs slot terpopuler yang hadir di Indonesia dan meliput berita-berita viral yang terjadi di masyarakat.

Selain itu aku merasa ada kebenaran dari pernyataan Raditya Dika yang di kutip di atas, bahwa berita yang paling cepat marak di masyarakat adalah berita yang negatif.

Hal tersebut semakin diperparah dengan fakta bahwa menyebarkan berita buruk zaman sekarang sangatlah mudah untuk dilakukan tinggal copy paste dan kirimkan pada orang atau group yang kita mau.

Mungkin kita pernah berusaha untuk tidak terlalu mudah mengomentari atau menghakimi berita-berita yang beredar, tetapi pada kenyataannya hal tersebut sangat susah untuk dilakukan.

Yang seharusnya kita selalu berusaha lakukan adalah mengingatkan diri sendiri bahwa melalui berita, kita hanya tahu sebagian dari fakta yang ada, bukan seluruhnya. Dengan demikian, setidaknya kecenderungan untuk main hakim sendiri jadi lebih berkurang.

Masih ada banyak cerita-cerita yang lain dalam buku ini, dan mungkin cerita yang berkesan bagi setiap pembaca akan berbeda-beda.

Seperti buku-buku Raditya Dika sebelumnya, ada juga beberapa kisah tentang pengalaman patah hati. Tetapi, tiga cerita di atas mengangkat isu atau tema yang lebih meninggalkan bekas dalam pikiran.

Penulisannya tetap ringan dan mudah dibaca, tidak butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya.

hardestystea

Kembali ke atas